Oleh: Ruth | Maret 29, 2009

Cerita Perjalananku ke Kenya

I (seri 1)

My Journey:

Chapter One

Nairobi, I’m Coming

Agustus 2008, aku melahirkan Abin, anak ketigaku. Dua bulan kemudian, Oktober 2008, aku menerima e-mail dari Swedesurvay. Dalam e-mail itu, mereka mengundang aku untuk mengikuti kursus ULA Phase II, di Nairobi, Kenya, Africa Timur, pada bulan Nopember. Kali ini, kursus dilaksakanan dua minggu, dari tanggal 10 hingga 20.

Aku sangat senang menerima e-mail itu. Tapi dibalik rasa senangku, terbersit kekhawatiran karena harus meninggalkan bayiku yang baru berumur tiga bulan. Untunglah, aku berhasil mendapatkan baby sitter yang cocok. Dengan begitu, rasa khawatirku sedikit berkurang.

Selama bulan Oktober, aku sibuk mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke Kenya. Banyak yang harus ku persiapkan. Seperti dokumen-dokumen dan surat pengantar dari Badan Pertanahan Negara RI, Sekretaris Negara hingga Departemen Luar Negeri.  Karena di Indonesia belum ada kedutaan Kenya, maka untuk memperoleh Visa, aku menggunakan sistem Visa on Arrival, yaitu pembuatan Visa setelah tiba disana.

9 Nopember, akhirnya saat itupun tiba. Untuk sampai ke Nairobi, harus transit di Doha, Qatar. Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta sekitar pukul 22:00 WIB, Qatar Airways yang kutumpangi tiba di Doha, Qatar sekitar pukul 02:00 WIB.

Untunglah di bandara banyak tanaga kerja Indonesia yang juga transit. Sehingga tidak terasa terlalu asing bagiku, karena masih bisa berbincang-bincang dengan orang Indonesia, menggunakan bahasa sendiri. Sambil berbincang-bincang, kami bertukar alamat dan berfoto. Dengan begitu, saat-saat menunggu di bandara tidak terasa membosankan.

Keesokan harinya, tepat pukul 08:00 waktu setempat, pesawat melanjutkan perjalanan ke Nairobi, Kenya, Afrika Timur. Pukul 15:00 waktu setempat, aku tiba di Airport Nairobi, Kenya.

Menginjakkan kaki di Airport Nairobi, perasaanku betul-betul tidak menentu. Merasa belum memiliki Visa, membuat aku takut akan dicekal. Aku sangat gugup ketika berjalan menuju loket pembuatan Visa. Dengan membayar 50US$, akhirnya aku mendapatkan Visa. Setelah itu, barulah perasaanku mulai tenang.

Setelah mendapatkan Visa, aku berjalan menuju pintu kedatangan. Ternyata disana sudah menunggu pihak panitia yang menjemputku. Mereka membawa kertas bertuliskan “ULA-II 2008”, sehingga aku bisa dengan mudah mengenali mereka. Aku sangat bersyukur dan tak henti-hentinya mengucapkan Alhamdulillah. Detak jantungku kini kembali normal karena selamat sampai ke Nairobi.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju penginapan, aku sempat terheran-heran. Hampir seluruh tempat ini merupakan kawasan kumuh dan kotor. Melihat pemandangan seperti itu, aku merasa bersyukur menjadi warga negara Indonesia. Walaupun Indonesia tak pernah surut dengan berbagai masalah, tapi setidaknya negara kita jauh lebih indah dan permai.

Perjalanan menuju penginapan cukup jauh. Tak kurang dari dua jam, Taxi yang kutumpangi berputar-putar dengan pemandangan yang sama, kotor dan kumuh. Pemandangan itu membuat aku sedikit pusing. Bagaimana tidak, yang terlihat hanya kekotoran, debu dan hitam. Sangat kontras dengan warna kulit masyarakat setempat yang juga hitam.

Setelah dua jam yang cukup menyiksa itu, akhirnya aku sampai di Kenya Shcool Monetery Study (KSMS), tempat aku menginap selama di Nairobi.

To be continue

* * *

Iklan

Responses

  1. Halo Ruth. Saya junga ada keinginan untuk terbang ke Kenya. tapi sama sekali buta mengenai prosedur dan biayanya. Bisa tolong dikasihs edikit rincia tentang airlines apa yang diambil dari CGk, terus biayanya sampai tiba ke Nairobi?

    Thanks.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: