Oleh: Ruth | April 21, 2009

Kartini…Kartini

Perempuan dapat merubah dunia dengan cara menulis apa yang dipikirkannya dan dirasakannya, agar tercipta suara baru, dunia baru dan makna-makna baru.

(Helene Cixous, tokoh feminis Postmodern, Perancis)

21 April 2009. Mungkin sudah se-abad sejak kelahiran seorang tokoh pendobrak dan pejuang kaum perempuan, Raden Ajeng Kartini.  Walau sudah tiada, sosok pejuang emansipasi wanita ini terus di kenang. Dari pemikirannya, mampu membuka mata Indonesia agar menghargai dan memuliakan wanita. Mensejajarkan kaum Hawa sederajat dengan kaum Adam.

Sungguh besar jasa seorang Kartini. Inspirasinya membuat kedudukan wanita tidak hanya sebatas “Konco Wingking” atau hanya urusan dapur dan kasur saja. Kini wanita lebih dihargai dan mempunyai hak sebagai pribadi yang utuh. Artinya, bebas dalam berkarier tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita, sebagai isteri dan ibu dari anak-anaknya.

Waktu boleh saja bergerak dan berubah, namun sejarah tak pernah lelah dan salah untuk menceritakan dirinya, meski dengan tinta air mata dan darah. Sekarang ini, seakan tak ada batasan bidang tugas dan pekerjaan antara wanita dan pria. Nyaris semua pekerjaan bisa dilakukan oleh wanita  Apapun itu, asal ada  kemauan, pasti tugas yang seharusnya untuk pria, mampu dikerjakan wanita.

Disegala bidang, banyak posisi dan jabatan penting kini dipegang oleh wanita. Tak ketinggalan, di lingkup PNS, juga memberikan kesempatan bagi wanita untuk berkarier hingga puncak. Dalam perebutan kursi wakil rakyat, kini tak lagi didominasi kaum pria. Bahkan sejarah telah mencatat, betapa bangsa besar ini pernah dipimpin seorang wanita. Hanya saja, jumlah mereka mungkin relatif masih sedikit.

Seperti di Badan Pertanahan Nasional (Kantor Pertanahan Kota Surakarta), kantor tempatku bekerja. Dari 20 kursi jabatan hanya ada empat orang wanita, termasuk aku. Semoga ditahun-tahun mendatang lebih banyak lagi kesempatan yang dapat diraih oleh wanita untuk menduduki sebuah jabatan penting.

Bagiku, Kartini bukan hanya sosok wanita priyayi yang mengabdikan pengetahuan dan pikirannya untuk wanita dari semua golongan, bahkan golongan terbawah sekalipun. Kartini adalah simbol kebangkitan dari keterkungkungan. Kartini juga lambang sebuah ketegaran, pengabdian dan perjuangan. Dalam kehidupanku, ada yang kuanggap sebagai Kartini masa kini.

Yang pertama adalah ibuku. Melalui pengabdian dan perjuangannya, aku bisa seperti sekarang ini. Tanpa ibu, mustahil aku bisa menulis disini.

Sosok kedua adalah kakak kandungku sendiri. Dra Sri Maharani, begitu nama lengkapnya. Saat ini, dia menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha, Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Diusia yang hampir setengah abad, kecantikannya tak sedikitpun memudar. Justru diusia ke 49, tepatnya 16 Januari 2009 lalu, aura yang memancar semakin mantap saja.

Menyanyi adalah hobbynya. Disela-sela tugas pokok dan rutinitasnya sebagai Kepala Tata Usaha, kakakku ini selalu menyempatkan diri berolah vokal. Karena memang ia tercatat sebagai anggota orkes Keroncong UNS.

Meski kami tidak dilahirkan sebagai putri berdarah biru seperti Kartini, tapi kakakku itu memiliki watak dan semangat juang yang tinggi seperti Kartini. Dia juga penyabar dan ulet dalam meraih sesuatu yang positif, persis seperti sosok seorang Kartini. Semua kelebihannya itu, ku jadikan sebagai panutan dan tauladan.

Begitu banyak yang ingin ku tulis tentang sosok kakak yang sangat kukagumi ini. Begitu banyaknya, hingga aku bingung harus memulainya. Karena itu, kusertakan disini foto-fotonya supaya semua bisa menilai sendiri dan melihat kecantikannya.

Ketahuilah tujuanmu, jalankanlah perjuanganmu itu dengan ulet, bersatupadulah dengan kawan-kawan kita laki-laki. Terutama sekali berhati beranilah! Tiada perjuangan pernah mencapai kemenangan, jika tidak dengan senjata keberanian hati.”

(Vera Sasulitsch, sebagaimana dikutip Ir Sukarno dalam Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia, Cet III, 1963: 224)

Iklan

Responses

  1. Sekarang ini tidak cukup hanya sekedar Kartini sebagai simbol. Kita butuh lebih dari itu,…

  2. Duuhhh…wajah jawa yang ayu..lembut..teduh..klasik banget…ibarat…hari siang terik..ngaso di bawah pohon rindang pinggir jalan pinggir sawah pinggir kali…nyruput es degan…angin sepoi-sepoi…sikil nyemplung banyu kali…cah-cah angon..hemmm…..Kartini yang menyejukkan hati…

    • Makasih Koment nya ya… Dialah mbakku.. dan Kamu juga Kartini masa kini say..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: